Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Budaya di Pusatnya Jawa di Keraton Kasunanan Surakarta

Keraton Kasunanan Surakarta merupakan pusat kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dulu berdiri di atas lahan desa Sala, sebuah desa di sebelah timur keraton Kartasura, di pinggir kali Bengawan Solo, Surakarta merupakan salah satu kerajaan pecahan dari kerajaan Mataram Islam, dimana pecahan yang lain membentuk kerajaan kasultanan yang bernama Ngayogjakarta Hadiningrat, di keraton ini pula menjadi singgasana bagi raja-raja Surakarta yang umumnya bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Pakubuwono.

Keraton Kasunanan Surakarta

Mengunjungi keraton ini, tergambarlah kemegahan keraton ini di masa yang lalu, dengan lahan istana yang kian luas, terbagi-bagi menjadi beberapa tempat yang memiliki fungsi berbeda-beda, tata letak bangunan dan jalan dibuat simetris, begitu pula halaman alun-alun utara dan selatan yang dibuat sama besar, pagar-pagar yang tinggi yang masih cukup terawat hingga sekarang.

Apa yang anda bayangkan jika mendengan keraton Surakarta? apakah semacam menara yang menjulang berwarna biru yang bisa terlihat dari beberapa titik di sekitar keraton ini, atau membayangkan jalan sempit satu arah yang diapit dua tembok nan tinggi berwarna putih bernama Jalan Supit Urang.

Menurut sejarahnya, keraton ini dibangun oleh Pakubuwono II pada tahun 1744, sebagai pengganti dari keraton yang sebelumnya yang rusak parah akibat Geger Pecinan, bangunan keraton terdiri dari beberapa bagian seperti alun-alun, kompleks Sasana Sumewa (Sitihinggil), kompleks kemandungan, kompleks Srimanganti, Kompleks Kedhaton, di Sasana Sewaka inilah bagian dari bangunan inilah Susuhunan bertakhta pada setiap upacara-upacara kerajaan seperti Garegeg dan Tingalan Jumenengan sang raja.

Beberapa bagian bangunan di keraton ini kini menjadi museum, yang memajang beberapa benda peninggalan bersejarah yang otentik, seperti beberapa kereta kencana, pakaian prajurit, alat-alat perang, tandu, alat musik, hingga pakaian adat khas keraton, untuk menikmati keseluruhan isi museum ini anda cukup dengan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp. 8.000.

karena luasnya kawasan ini, bisa dikatakan jarak antara alun-alun utara hingga alun-alun selatan sangatlah jauh, namun demikian anda bisa menikmati setiap sudut bangunan kawasan keraton dengan menumpang andong yang banyak tersedia di kawasan keraton ini, selain bisa menikmati suasana kendaraan tradisional, bunyi lonceng di bawah Andong memberikan pengalaman nada yang sulit dicarikan penggantinya.

Di dekat alun-alaun selatan anda bisa melihat kandang kandang kerbau, konon kerbau ini bukanlah kerbau biasa, masyarakat sekitar sering menyebut kerbau-kerbau ini dengan istilah kebo Bule, kata Kebo merupakan bahasa jawa dari Kerbau sedangkan Bule lebih sering disebutkan orang jawa dengan ras putih, itulah kenapa kerbau yang ada disini kebanyakan berwarna putih, atau semacam Albino jika dalam bahasa biologi.

Untuk menuju lokasi keraton sangatlah mudah karena berlokasi tepat di jantung kota Solo, dari jalan Slamet Riyadi ke timur hingga pentok dan anda akan menemukan kawasan Gladag yang ditandai dengan berdirinya patung Slamet Riyadi, dari Gladag anda berbelok ke kanan (ke Selatan) dan anda akan menemukan kawasan alun-alun utara keraton.

Jangan lupa untuk mampir untuk berbelanja pakaian batik di pasar Klewer yang terletak di barat Alun-alun utara, atau bersantap kuliner di malam hari di Gladag Langen Bogan, bagaimanapun juga keraton Surakarta merupakan obyek tujuan wajib ketika anda berkunjung ke kota budaya ini.